IMPLEMENTING E-BUSINESS THROUGH ORGANIZATIONAL LEARNING: AN EMPIRICAL INVESTIGATION IN SMEs
Abstrak
Paper ini menguji secara relative penting dan signifikannya empat proses yang dikenalkan oleh Huber pada empat level e-bisnis yang berbeda, melalui investigasi empiris terhadap 130 SME di sector telekomunikasi Spanyol. Hal ini dilakukan dengan menggunakan model multinomial logistic, yang divalidasi oleh faktor analisis. Hasil kami mendukung bahwa untuk melaksanakan e-bisnis, perusahaan perlu menyediakan akuisisi, interpretasi dan menyimpan pengetahuan seperti tahap sebelumnya. Kemudian, untuk menggabungkan e-bisnis, perusahaan perlu mendukung distribusi pembelajaran pengetahuan selama fase sebelumnya. Sejauh ini temuan kami mengusulkan bahwa akuisisi pengetahuan perlu untuk memajukan dari tahap relasional hingga tahap internal.
PENDAHULUAN
Persaingan makin bertambah dengan pengetahuan berdasarkan perusahaan berusaha untuk mempelajari dan mengembangkan kemampuan lebih cepat daripada saingan mereka. Dalam konteks ini, arus keuntungan kompetitif perusahaan dari pengetahuannya yang unik dan bagaimana pengetahuan ini diatur. Karena hal ini, pengetahuan menghasilkan proses yang menjadi kunci elemen bagi perusahaan mencari penyesuaian dan mengetahui lebih dulu perubahan lingkungan melalui implementasi teknologi baru. Untuk penyesuaian secara terus menerus perubahan kondisi bisnis dan untuk menghasilkan generasi, perusahaan perlu menerima pengetahuan pasar baru, mengurusnya, membuat pengetahuan saham eksplisit mereka dan membagi pengetahuan melalui entitas organisasi. Bagaimanapun, pengembangan inovasi tidak mudah dan memerlukan promosi beberapa proses dari yang mengetahui apakah yang konsumen ingin kembangkan mengenai produk baru atau pelayanan dimana perusahaan dapat gunakan dalam transaksi komersial mereka. Teknologi informasi mengijinkan perusahaan untuk memperoleh, memproses, menyimpan, dan menukar informasi. Sekarang bagi banyak perusahaan, pengabaian e-bisnis berarti kehilangan kesempatan untuk menghasilkan keuntungan yang kompetitif. E-bisnis mengijinkan perusahaan membuat transaksi dnegan konsumen atau supplier tanpa kehadiran orang.
Poin awal paper ini adalah ide bahwa suksesnya e-bisnis tergantung pada kemampuan perusahaan untuk mengembangkan proses pembelajaran organisasi yang dapat menghidupi perusahaan dengan pengetahuan konsumen dan mengembangkan solusi dan menawarkan produk baru dan pelayanan melalui e-bisnis. Dengan mempertimbangkan hal ini, kami mengusulkan bahwa organisasi belajar menyediakan pandangan untuk membantu e-bisnis mencapai keuntungan kompetitif. Tujuan paper ini adalah untuk menganalisis hubungan antara pembelajaran organisasi dan e-bisnis dalam perusahaan kecil dan menengah (SME), yang sering dilupakan dalam literature yang relevan. Dengan demikian paper mulai dengan mempelajari proses pembelajaran.
Belajar dalam organisasi
Revolusi teknologi yang membentuk pasar telah membawa lebih perubahan dalam praktek manajemen daripada dalam beberapa periode lain sebelumnya. Dalam kasus ini, manajer telah melihat bahwa pengetahuan merupakan sumber kekuatan dan bahwa pengetahuan secara luas disalurkan disekitar perusahaan. Dalam beberapa kasus, pembelajaran organisasi dapat didefinisikan sebagai proses pemahaman dan menghasilkan pandangan baru dalam organisasi. Proses ini menyatakan secara tidak langsung pengembangan pandangan, pengetahuan, dan asosiasi antara tindakan masa lalu, keefektifan pandangan ini, dan tindakan akan datang. Huber mendefinisikan pembelajaran organisasi sebagai pengembangan pengetahuan dan pandangan baru yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku organisasi. Hal ini terjadi ketika asosiasi, system kognitif, dan ingatan dibentuk oleh anggota dalam sebuah organisasi.
Pembelajaran organisasi dalam organisasi membolehkan akuisisi, distribusi, interpretasi, dan penyimpanan pengetahuan baru yang mengijinkan organisasi memahami dan menyensor system informasi baru hingga akhirnya mereka gunakan pada organisasi. Huber menggambarkan empat proses atau susunan yang menyumbangkan pembelajaran organisasi; disebut, akuisisi pengetahuan, distribusi informasi, interpretasi informasi dan memori organisasi. Pengetahuan akuisisi didefinisikan sebagai proses dimana pengetahuan diterika atau diperoleh. Distribusi informasi adalah proses dimana informasi dibentuk. Interpretasi informasi melibatkan inovasi usaha untuk mengembangkan satu atau lebih interpretasi biasa dari pengetahuan yang disalurkan. Memori organisasi didefinisikan sebagai pengetahuan yang menyimpan manfaat.
Untuk menaksirkan pembelajaran organisasi, beberapa studi empiris difokuskan pada subjek ini, karena, seperti Garvin yang membantah, perusahaan tidak dapat mengatur pembelajaran organisasi jika mereka tidak dapat mengukurnya. Menurut beberapa peneliti ada dua tahap utama dalam proses mengubah pengetahuan dalam produk baru, pelayanan atau proses yang menyediakan keuntungan kompetitif perusahaan. Pertama, kemungkinan penyerapan kapasitas untuk memerlukan dan memahami pengetahuan. Kedua, penyerapan kemampuan yang dipercaya, yang memasukkan transformasi dan kemampuan eksploitasi.
Pembelajaran organisasi dan e-bisnis
System e-bisnis
System e-bisnis didefinisikan sebagai beberapa transaksi komersial atau administrative atau pertukaran informasi dimana organisasi menyediakan network dan sering berdasarkan pada teknologi web. Pada dasarnya, e-bisnis mengenai pelaksanaan elektronik bisnis melalui internet. Hal ini memasukkan aktivitas seperti komunikasi, marketing, dan kolaborasi. Beberapa kesempatan biasanya melibatkan IS untuk isu-isu implementasi. Sayangnya, implementasi IS tidak terjadi kesanggupan untuk menemukan atau secara random.
Ada jumlah yang signifikan mengenai penelitian dalam area klasifikasi e-bisnis, pengembangan dan implementasi. Timmer mengklasifikasikan e-bisnis berdasarkan pada integrasi vertical atau horizontal berbagai macam perusahaan dan industry, dan mempertimbangkan e-shop, e-procurement, e-action, e-mall, dan e-marketplace. Rayport dan Jaworski mengusulkan dua criteria utama untuk mengklasifikasi e-bisnis: (a) sumber yang berisi organisasi; dan (b) focus pada strategi bisnis e-commerce, yang dapat menjadi sisi penawaran atau sisi permintaan. Secara alternative, Amit dan Zott mengidentifikasi tiga dimensi e-bisnis:
1. Isi transaksi, yang memasukkan adanya dan manfaat intranet dan internet untuk menyebarkan pengetahuan.
2. Susunan transaksi, yang menunjukkan orang dan bagaimana berkomunikasi dan memasukkan groupware dan system kolaboratif seperti e-mail.
3. Transaksi yang mengatur, yang menunjukkan informasi dan memasukkan kumpulansistem intelijen, yang memudahkan akses dan menggunakan pengetahuan untuk mendukung keputusan.
Aturan e-bisnis
Hubungan antara pembelajaran organisasi dan teknologi informasi dianalisis dengan dua aliran yang berhubungan. Di satu pihak, beberapa peneliti menganalisis pembelajaran organisasi sebagai asri menjelaskan dan memecahkan masalah pelaksanaan dan menggunakan teknologi informasi baru dalam organisasi. Di pihak lain, aplikasi teknologi informasi telah difokuskan untuk mendukung proses pembelajaran organisasi.
Akhirnya implementasi IS ditempatkan bersama dengan pembelajaran organisasi. Peneliti telah menekankan bahwa penggunaan IS tanpa tujuan dan perencanaan yang jelas tidak mungkin menyediakan beberapa perbaikan yang signifikan dalam operasi dan performance bisnis. Dalam hasil ini, paper ini meninjau kembail hubungan dan menguji kepentingan relative dan secara signifikan proses pembelajaran organisasi sepanjang perbedaan level e-bisnis.
Akuisisi pengetahuan mencerminkan fungsi identifikasi yang menggambarkan generasi intelijen untuk organisasi. Lebih dari itu, infrastruktur e-bisnis melibatkan akuisisi pengetahuan dan kemampuan. Liao, Welsch, dan Stoica menyatakan bahwa SME dengan kemampuan pengembangan yang baik dalam akuisisi pengetahuan lebih memungkinkan penyesuaian kemajuan teknologi. Temuan ini konsisten dengan konseptualisasi Gilbert dan Cordey-Hayes mengenai akuisisi pengetahuan sebagai fasilitator suksesnya inovasi teknologi. Pertimbangan ini membawa kita pada susunan hipotesis kerja pertama:
Ø H1: perusahaan yang mengajukan akuisisi pengetahuan akan memiliki manfaat system e-bisnis utama.
E-bisnis mengenai pembuatan peron elektronik berdasarkan internet mengijinkan konsumen, supplier, dan pekerja untuk bekerja sama dengan satu sama lain melalui pembagian data, informasi dan pengetahuan. Dalam proses ini distribusi pengetahuan di sekitar perusahaan merupakan kunci. Bagaimanapun, masalah yang berhubungan dengan e-bisnis merupakan kekurangan bahasa biasa untuk membantu pekerja secara efisien melaksanakan transaksi melalui internet. Kekurangan bahasa umum menyebabakn duplikasi pekerjaan, konflik protocol pertukaran data, dan tidak nyamannya model bisnis dalam organisasi. Berkenaan dengan hal ini, Schlegelmilch dan Penz mengusulkan bahwa strategi dan visi akan meliputi proses distribusi pengetahuan. Proses ini terdiri dari transmisi pengetahuan yang diperlukan pada level individu, pada prinsipnya melalui konservasi individu dan hubungan antara pekerja perusahaan. Oleh sebab itu, kami mengusulkan hipotesis dibawah ini:
Ø H2: perusahaan yang mengajukan distribusi pengetahuan akan memiliki system manfaat e-bisnis.
Studi Fiol menunjukkan bagaimana dugaan consensus dapat dibagi dalam dua bagian. Pertama, consensus sekitar penanaman interpretasi dalam isi, dimana kelompok dapat atau tidak dapat menyetujui dengan arti pengetahuan. Kedua, consensus dalam rencana komunikasi, bagaimana mereka dapat menyusun “gambar realitas”. Oleh karena itu kami mengusulkan:
Ø H3: perusahaan yang mengajukan interpretasi pengetahuan akan memiliki system manfaat e-bisnis.
Memori organisasi merupakan kumpulan pengetahuan mengenai organisasi dan berisi teori yang berguna, membentuk model mental, informasi database, menyusun prosedur dan rutin, dan budaya formal yang lebih menuntun perilaku yang dapat membawa pada hasil keputusan sekarang yang berdasarkan pada pengetahuan dan pengalaman masa lalu dan memiliki pengaruh positif pada performance. Lebih dari itu, karena e-bisnis merupakan hasil interaksi sebenarnya antara organisasi dan partnernya, pengetahuan diperlukan individu untuk menghasilkan interaksi yang sukses dapat menjadi sulit. Pertimbangan ini membawa kami pada rencana hipotesis kerja keempat:
Ø H4: perusahaan yang mengajukan utilisasi memori organisasi kaan memiliki system manfaat e-bisnis.
Hasil
Secara khusus menunjukkan bahwa ‘e-bisnis’ tidak mungkin pada dasar organisasi tanpa membantu perkembangan dengan proses pembelajaran organisasi. Hasil penelitian inimengusulkan bahwa pembelajaran organisasi melalui empat proses penyerapan mereka menyumbangkan pada pengembangan pengetahuan baru yang mengijinkan suksesnya e-bisnis.
Diskusi
Karena teknologi informasi dapat meningkatkan kemampuan organisasi untuk belajar, dan secara simultan, kemampuan belajar dapat mempengaruhi tingkatan dimana teknologi diangkat dan digunakan secara efektif, adopsi e-bisnis merupakan proses kompleks yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti apa yang diinginkan dan diperlukan konsumen, norma subjektif, tahap adopsi, pengguna berkompetensi, proses implementasi dan faktor organisasi. Studi ini menguji melalui studi empiris melalui 130 SME telekomunikasi Spanyol, bagaimana pembelajaran organisasi menandakan pada adopsi e-bisnis.
Kesimpulan
Teknologi informasi mengijinkan perusahaan memperoleh, memproses, menyimpan dan menukar informasi. Walaupun demikian, kehadiran jaminan teknologi informasi tidak menghasilkan pengetahuan, distribusi pengetahuan ataupun manfaat pengetahuan. Banyak studi di area IS menekankan bahwa aplikasi teknologi memudahkan pembelajaran organisasi tanpa banyak hasil bagi pembelajaran sebelumnya yang diambil dalam perusahaan. Bagaimanapun, pengguna sering mengurangi sumber dan insentif yang membentuk pengetahuan, dan akhirnya menggunakan IS.
Kontribusi pertama penelitian ini adalah pertanyaan adanya model yang berhubungan dengan pembelajaran organisasi dan e-bisnis. Studi ini menemukan bahwa strategi diperlukan, disalurkan, menerjemahkan dan menyimpan pengetahuan dalam perusahaan akan dikembangkan, seperti tahap sebelumnya dalam implementasi e-bisnis. Beberapa proses menjamin dapat tersedia dan tercapainya pengetahuan atas isu strategi pada bisnis, memasukkan pasar, konsumen, supplier, produk dan layanan, pesaing, skill pekerja, proses dan prosedur dan peraturan lingkungan. Temuan ini mendukung pandangan Fahey, Srivastava, Sharon, dan Smith (2001) bahwa aplikasi pembelajaran organisasi menyediakan pondasi yang kuan bagi perusahaan yang secara signifikan menyumbangkan pemahaman dan kemudahan transformasi e-bisnis proses operasional. Hanya jika solusi teknologi terdahulu digabung dengan kreatifitas manusia dan pengetahuan dapat menghasilkan keuntungan sebenarnya perusahaan dalam pasar.
Kontribusi kedua penelitian ini berasal dari hasil pengujian empiris model. Sementara hubungan antara pembelajaran organisasi dan e-bisnis telah diteliti, hubungan antara setiap fase pembelajaran organisasi dan e-bisnis kurnag diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap fase e-bisnis memerlukan aturan rutin organisasi yang berguna dan diproses dengan yang diperlukan SME, pemahaman, perubahan, dan pengetahuan yang dieksploitasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar